Bersama Rakyat Lekra Menari

Suara Rose Pandanwangi juga tergolong mezzo-sopran sangat tjotjok dan sangat baik untuk menjanjikan lagu2 Negro Spiritual seperti lagu DEEP RIVER jang telah dibawakannja malam itu. Atas keberanian dan kesanggupannja mengangkat lagu2 Negro jang selama ini sangat diabaikan kalau tidak ditabukan oleh penjanji2 kita, penulis menjampaikan salut! Pilihan lagu A GRANADA dari C Palcios menurut penulis kurang tjotjok, karena dari lajar TV tampak sekali ,,berat” bagi pernafasan Rose. Sedangkan lagu MUSIM BUNGA TELAH LALU, suatu lagu Irlandia jang asalnja berdjudul ,,The Last Rose of Summer” perlu mendapat perhatian dan latihan jang lebih intensif... Lagu tersebut adalah salah satu World Famous Song jang sangat digemari oleh Presiden kita disamping sebuah lagu lainnja: LAGU MALAM atau ,,Serenade” tjiptaan Drigo!—J Witzen.(1)

Untuk menghibur diri, ajo menyanyi bersama-sama! Juga jangan takut untuk menyanyikan lagu Genjer-genjer. Tapi mesti diakui betap sukar untuk dihilangkan dari bawah tempurung kepala kita perasaan ngeri setelah mendengar sepotong lagu itu. Betapa selama puluhan tahun Genjer-genjer selalu digambarkan sebagai instrumen ideologis PKI yang memacu adrenalin untuk membunuh, menyembelih, dan mematikan, serta korbannya digambarkan ”dijejer dan pating kleler” seperti syair dalam Genjer-genjer. Begini sepenggal liriknya:

Genjer-genjer (genjer-genjer)

Esuk-esuk pating kleler (di pagi buta berhamparan)
Dijejer (dijejer-jejerkan)
Diunting digawa ning pasar (diikat-ikat dibawa ke pasar)

Dalam sukma terdalam Lekra, musik memang bukan sekedar ”hiburan”, tapi juga instrumen politik. Jika ada yang menjustifikasi musik dan lagu, termasuk Genjer-genjer, sebagai simbol/morse tentang peristiwa pagi buta 1 Oktober 1965, menjadi sangat wajar. Sebab Lekra-lah yang mengerek tinggi-tinggi lagu yang berasal dari daerah udik Jawa itu menjadi lagu nasional. Di kalangan ”keluarga Komunis” lagu ini menjadi hit dan sekaligus kebanggaan. Bagi Lekra, musik dan politik adalah saudara sepersusuan. Baca ucapan pentolan Lekra Njoto:

Musik adalah sendjata, sendjata jang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan, sendjata dalam ”djor-djoran” dengan kawan maupun dalam ”dor-doran” dengan lawan.(2)

Hit-nya Genjer-genjer terkait erat dengan semangat lagu itu sendiri. Di dalamnya bersemayam tradisi Rakyat dari respons emosi atas kondisi sosial terbawah. Alkisah, Genjer-genjer adalah lagu yang lahir dari romantisme revolusi yang ditemukan dari sebuah lawatan turun ke bawah (turba). Alat musik pengiring awalnya sederhana. Sebuah angklung yang berasal dari Jawa Barat. Angklung kemudian bergerak ke arah timur dan mulai akrab dengan masyarakat Banyuwangi. Lewat angklung inilah petani-petani milisi (para petani yang selalu hidup dari tanah tanpa punya sambilan kerja) menyanyikan derita dan bahagianya kehidupan mereka. Demikianlah, dari angklung gubuk ini orang lalu mengembangkannya dan lahirlah tiga jenis angklung lagi. Yakni angklung caruk,(3) angklung gandrung, (4) angklung modern yang lebih dikenal dengan nama Genjer-genjer atau Sri Muda.(5)

Lewat angklung modern lahirlah konsepsi musik baru seperti yang dilakukan Arief dengan lagu-lagu gubahannya. Ia muncul di tahun 1954 ketika Sri Tanjung, organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk didirikan. Ketika kematangan revolusioner Sri Tanjung kian meluas dan membumi, terutama lewat pengaruh yang dibawa Shin Zeisaku Za, dibangunlah kemampuan para pemuda untuk menggunakan angklung sebagai senjata dalam bermain musik. Sri Tanjung pun lebur menjadi Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Pemuda). Lagu-lagu yang dibawakannya, terutama ciptaan Arief, makin disukai. Bukan saja karena iramanya yang khas, tapi juga isinya progresif. Yang paling populer tentu saja Genjer-genjer mulai popular dan naik daun. Lagu ini kian menarik popularitasnya sejak 1962, terutama sekali lewat suara Lilis Suryani. Hit Genjer-genjer ini pun mengangkat Sri Muda, berkembang pesat dan diterima rakyat. Jumlah cabang organ musik daerah ini pun bertambah mencapai angka 34 di seluruh Kabupaten Banyuwangi. Cabang-cabang Sri Muda yang kian subur ini bernaung di bawah lembaga kebudayaan Lekra.

Atas keberhasilan Arief dengan hit Genjer-genjer, pelbagai komentar pun muncul:

...Arief memang pekerdja kebudjaan dibidang seni suara jang kreatif, jang telah berhasil mengangkat kesenian rakyat, untuk mendjadi sendjata berjuang jang lebih ampuh. Orangpun harus mengakui, Arief sudah mampu menundjukkan ketipikalan lagu-lagunja!(6)

Namun ada sedikit catatan buat Arief:

Arief tidak mengerti ilmu musik dari keseluruhan hingga mendetail. Karena itulah lagu-lagunja masih bisa dipertinggi terus, terutama dalam segi aransemennja. Tidak mengherankan setelah diaransir setjara modern dan sempurna sesuai tuntutan ilmu musik, termasuk Arief sendiri berkomentar lebih baik! Memang, segala kreasi kita pertinggi terus, mutu artistiknja dan mutu idiologinja.(7)

Malam hari, ketika penutupan Konferensi Nasional I Lembaga Musik Indonesia di gedung Ganefo Jakarta pada 4 November 1964 suasan kemudian menjadi bingar ketika sekira 38 orang seniman/seniwati Banyuwangi tampil di tengah-tengah persindangan membawakan lagu Genjer-genjer yang malam itu didapuk turut ambil bagian sebagai pemecut malam kesenian.

Genjer-genjer bukan sekadar nyanyian untuk dinyanyikan saja, tapi membangkitkan semangat serta menjadi seni rakyat; sebuah komposisi progresif dan revolusioner. Ia mengabadikan politik romantik padi dan menyingkirkan politik romantik lilin yang meleleh. Itulah Genjer-genjer. Itulah komposisi musik yang dipahami Lekra dan seluruh pekerja kebudayaannya.

Endnote:
1 Harian Rakjat, 24 Januari 1965.
2 Diucapkan oleh Njoto di depan rombongan paduan suara ”Tak Seorang Berniat Pulang” yang telah selesai berlomba dalam Ulang Tahun KSSR. Harian Rakjat, 2 November 1964.
3 Angklung caruk adalah angklung yang digunakan orang untuk saling adu keahlian membunyikan angklung dalam bentuk berhadapan.
4 Angklung gandrung adalah angklung yang digunakan mengiringi tari gandrung, yang punya lagu-lagu semacam gamelan Jawa. Gending-gending yang punya pupuh dan namanya mirip gending-gending Jawa ialah: Gambuh, Puncung, Sinom, dan sebagainya.
5 Angklung modern adalah angklung yang mengiringi lagu-lagu gubahan baru terutama buah karya Arief.
6 Harian Rakjat, 2 Agustus 1964.
7 Ibid.


.: dikliping dari buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Lekra Tak Membakar Buku, Yogyakarta: Merakesumba, 2008, h. 413-415 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar