Vina Calon Mama

Si burung Camar diam-diam tengah menanti kelahiran bayinya. Memang masih lama, karena kandungan Vina—yang dipersunting pereli Boy Harrijanto, November lalu—baru memasuki minggu ke-12. ”Banyak yang menduga anak saya nanti laki-laki. Saya sih kepinginnya perempuan,” katanya.

Meski ini anak pertam yang ditunggu, Vina sebetulnya mengidamkan punya anak empat dua cewek dan dua cowok. Setidaknya itu pernah dilontarkan pada Hai beberapa waktu lalu. ”Ikut KB juga. Tapi yang ini Keluarga Besar,” tuturnya sambil tertawa.

Kehadiran si jabang bayi itu tak luput ikut merubah perangai Vina. Ia yang biasanya centil, kini tampak lebih tenang. Aktivitas nyanyinya pun praktis dikurangi. ”Saya memang mengurangi job. Wajar dong, kan sekarang sudah ada suami dan calon anak.”

Masih ada perubahan lainnya. Vina yang biasanya ’bandel’ kini begitu patuh pada nasehat dokter. Ia meninggalkan kebiasaan merokok yang dirintisnya sejak setahun lalu itu. Bahkan bulan madunya bersama Boy ke Venezuela pun ditundanya hingga si jabang bayi berusia empat bulan. Namanya juga demi enak, eh anak. (abi)

.: dikliping dari majalah Hai, 6 Februari 1990 :.

Astaga Ruth Gendut

Memang pangling kalau melihat Ruth sekarang ini. Penyanyi yang melejit lewat tembang Astaga itu kini tampak makin gemuk. Lihat saja pipinya yang tambah tembem. Makin jelas kelihatan, soalnya rambutnya dipotong pendek. Setelah ditimbang, berat badannya melonjak tiga kilo, kini jadi 43 kg. Mau tahu kenapa Ruth jadi gemuk?

Ternyata ada hubungannya dengan lawatannya ke luar negeri selama dua bulan. Satu perusahaan kaset kosong yang menobatkannya jadi Penyanyi Rekaman Terbaik, Agustus lalu menghadiahinya jalan-jalan ke pantai Hawaii. Dari sana, ia tak langsung balik ke tanah air. Dengan biaya dari kocek sendiri. Ruth mampir ke Belanda, Perancis, dan Austria.

Nah, gara-gara jalan-jalan ke nagri itulah, Ruth jadi doyan makan dan ngemil. Padhaal selama ini ia nggak begitu ’rakus’. Ya namnya juga lagi musim dingin. Kalau nggak rajin makan, stamina bisa memble. Namun lantaran musim dingin itu pula ia terserang flu. ”Saya nggak tahan sama cuacanya,” tutur Ruth ketika ditemui di antara ratusan undangan PT Indomobil Niaga International yang memperkenalkan sedan Suzuki Forsa Amenity di Hotel Hilton belum lama ini. Tak jelas apakah Ruth lantas akan mengurus badannya. (abi)

.: dikliping dari majalah Hai, 6 Februari 1990 :.

Bersama Rakyat Lekra Menari

Suara Rose Pandanwangi juga tergolong mezzo-sopran sangat tjotjok dan sangat baik untuk menjanjikan lagu2 Negro Spiritual seperti lagu DEEP RIVER jang telah dibawakannja malam itu. Atas keberanian dan kesanggupannja mengangkat lagu2 Negro jang selama ini sangat diabaikan kalau tidak ditabukan oleh penjanji2 kita, penulis menjampaikan salut! Pilihan lagu A GRANADA dari C Palcios menurut penulis kurang tjotjok, karena dari lajar TV tampak sekali ,,berat” bagi pernafasan Rose. Sedangkan lagu MUSIM BUNGA TELAH LALU, suatu lagu Irlandia jang asalnja berdjudul ,,The Last Rose of Summer” perlu mendapat perhatian dan latihan jang lebih intensif... Lagu tersebut adalah salah satu World Famous Song jang sangat digemari oleh Presiden kita disamping sebuah lagu lainnja: LAGU MALAM atau ,,Serenade” tjiptaan Drigo!—J Witzen.(1)

Untuk menghibur diri, ajo menyanyi bersama-sama! Juga jangan takut untuk menyanyikan lagu Genjer-genjer. Tapi mesti diakui betap sukar untuk dihilangkan dari bawah tempurung kepala kita perasaan ngeri setelah mendengar sepotong lagu itu. Betapa selama puluhan tahun Genjer-genjer selalu digambarkan sebagai instrumen ideologis PKI yang memacu adrenalin untuk membunuh, menyembelih, dan mematikan, serta korbannya digambarkan ”dijejer dan pating kleler” seperti syair dalam Genjer-genjer. Begini sepenggal liriknya:

Genjer-genjer (genjer-genjer)

Esuk-esuk pating kleler (di pagi buta berhamparan)
Dijejer (dijejer-jejerkan)
Diunting digawa ning pasar (diikat-ikat dibawa ke pasar)

Dalam sukma terdalam Lekra, musik memang bukan sekedar ”hiburan”, tapi juga instrumen politik. Jika ada yang menjustifikasi musik dan lagu, termasuk Genjer-genjer, sebagai simbol/morse tentang peristiwa pagi buta 1 Oktober 1965, menjadi sangat wajar. Sebab Lekra-lah yang mengerek tinggi-tinggi lagu yang berasal dari daerah udik Jawa itu menjadi lagu nasional. Di kalangan ”keluarga Komunis” lagu ini menjadi hit dan sekaligus kebanggaan. Bagi Lekra, musik dan politik adalah saudara sepersusuan. Baca ucapan pentolan Lekra Njoto:

Musik adalah sendjata, sendjata jang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan, sendjata dalam ”djor-djoran” dengan kawan maupun dalam ”dor-doran” dengan lawan.(2)

Hit-nya Genjer-genjer terkait erat dengan semangat lagu itu sendiri. Di dalamnya bersemayam tradisi Rakyat dari respons emosi atas kondisi sosial terbawah. Alkisah, Genjer-genjer adalah lagu yang lahir dari romantisme revolusi yang ditemukan dari sebuah lawatan turun ke bawah (turba). Alat musik pengiring awalnya sederhana. Sebuah angklung yang berasal dari Jawa Barat. Angklung kemudian bergerak ke arah timur dan mulai akrab dengan masyarakat Banyuwangi. Lewat angklung inilah petani-petani milisi (para petani yang selalu hidup dari tanah tanpa punya sambilan kerja) menyanyikan derita dan bahagianya kehidupan mereka. Demikianlah, dari angklung gubuk ini orang lalu mengembangkannya dan lahirlah tiga jenis angklung lagi. Yakni angklung caruk,(3) angklung gandrung, (4) angklung modern yang lebih dikenal dengan nama Genjer-genjer atau Sri Muda.(5)

Lewat angklung modern lahirlah konsepsi musik baru seperti yang dilakukan Arief dengan lagu-lagu gubahannya. Ia muncul di tahun 1954 ketika Sri Tanjung, organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk didirikan. Ketika kematangan revolusioner Sri Tanjung kian meluas dan membumi, terutama lewat pengaruh yang dibawa Shin Zeisaku Za, dibangunlah kemampuan para pemuda untuk menggunakan angklung sebagai senjata dalam bermain musik. Sri Tanjung pun lebur menjadi Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Pemuda). Lagu-lagu yang dibawakannya, terutama ciptaan Arief, makin disukai. Bukan saja karena iramanya yang khas, tapi juga isinya progresif. Yang paling populer tentu saja Genjer-genjer mulai popular dan naik daun. Lagu ini kian menarik popularitasnya sejak 1962, terutama sekali lewat suara Lilis Suryani. Hit Genjer-genjer ini pun mengangkat Sri Muda, berkembang pesat dan diterima rakyat. Jumlah cabang organ musik daerah ini pun bertambah mencapai angka 34 di seluruh Kabupaten Banyuwangi. Cabang-cabang Sri Muda yang kian subur ini bernaung di bawah lembaga kebudayaan Lekra.

Atas keberhasilan Arief dengan hit Genjer-genjer, pelbagai komentar pun muncul:

...Arief memang pekerdja kebudjaan dibidang seni suara jang kreatif, jang telah berhasil mengangkat kesenian rakyat, untuk mendjadi sendjata berjuang jang lebih ampuh. Orangpun harus mengakui, Arief sudah mampu menundjukkan ketipikalan lagu-lagunja!(6)

Namun ada sedikit catatan buat Arief:

Arief tidak mengerti ilmu musik dari keseluruhan hingga mendetail. Karena itulah lagu-lagunja masih bisa dipertinggi terus, terutama dalam segi aransemennja. Tidak mengherankan setelah diaransir setjara modern dan sempurna sesuai tuntutan ilmu musik, termasuk Arief sendiri berkomentar lebih baik! Memang, segala kreasi kita pertinggi terus, mutu artistiknja dan mutu idiologinja.(7)

Malam hari, ketika penutupan Konferensi Nasional I Lembaga Musik Indonesia di gedung Ganefo Jakarta pada 4 November 1964 suasan kemudian menjadi bingar ketika sekira 38 orang seniman/seniwati Banyuwangi tampil di tengah-tengah persindangan membawakan lagu Genjer-genjer yang malam itu didapuk turut ambil bagian sebagai pemecut malam kesenian.

Genjer-genjer bukan sekadar nyanyian untuk dinyanyikan saja, tapi membangkitkan semangat serta menjadi seni rakyat; sebuah komposisi progresif dan revolusioner. Ia mengabadikan politik romantik padi dan menyingkirkan politik romantik lilin yang meleleh. Itulah Genjer-genjer. Itulah komposisi musik yang dipahami Lekra dan seluruh pekerja kebudayaannya.

Endnote:
1 Harian Rakjat, 24 Januari 1965.
2 Diucapkan oleh Njoto di depan rombongan paduan suara ”Tak Seorang Berniat Pulang” yang telah selesai berlomba dalam Ulang Tahun KSSR. Harian Rakjat, 2 November 1964.
3 Angklung caruk adalah angklung yang digunakan orang untuk saling adu keahlian membunyikan angklung dalam bentuk berhadapan.
4 Angklung gandrung adalah angklung yang digunakan mengiringi tari gandrung, yang punya lagu-lagu semacam gamelan Jawa. Gending-gending yang punya pupuh dan namanya mirip gending-gending Jawa ialah: Gambuh, Puncung, Sinom, dan sebagainya.
5 Angklung modern adalah angklung yang mengiringi lagu-lagu gubahan baru terutama buah karya Arief.
6 Harian Rakjat, 2 Agustus 1964.
7 Ibid.


.: dikliping dari buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan, Lekra Tak Membakar Buku, Yogyakarta: Merakesumba, 2008, h. 413-415 :.

Trail Brondong Doel Sumbang

SEMULA Doel Sumbang adalah pemilik motor Harley Davidson terbanyak di Bandung. Koleksinya mencapai 13 buah dari berbagai jenis. Namun, tiap kali melakukan tur bersama teman satu klubnya, si pencipta lagu Kalau Bulan Bisa Ngomong ini merasa ada yang mengganjal. "Masak, kalau kita naik motor, orang harus minggir," katanya kepada Carry Nadeak dari Gatra. Gara-gara sikapnya itu, Doel sampai beradu argumentasi dengan teman-teman sesama penggemar motor gede. Ujungnya, Doel memilih keluar dari organisasi itu, lalu melego semua moge-nya.

Dari Harley Davidson, Doel beralih ke motor balap ber-cc besar. Sedikit lebih bebas, memang. Tapi tetap saja ia tak kerasan. Motor gede itu pun kembali dilego. Karena tak bisa berpisah dengan kendaraan roda dua, Doel melirik jenis motor lain. Motor trail pun jadi pilihan pria ramah ini.

Saban akhir pekan, Doel menyambangi daerah-daerah pinggiran kota Bandung sampai lintas kabupaten. Ahad dua pekan lalu, misalnya, Doel baru saja kembali dari Maribaya. Kebebasan macam inilah yang dicari Doel sejak dulu. Apalagi, "Saya ketemu borondong di Maribaya," katanya tentang penganan khas Sunda tersebut. Rupanya sudah bertahun-tahun Doel tak pernah mencicipi makanan satu ini. "Kalau naik Harley, mana bakalan dapat," katanya.

.: dikliping dari Gatra, No 9, 19 Desember 2005 :.

Doel Sumbang Merajuk Karena Pembajak

Artis musik kenamaan Doel Sumbang belum juga membuat album baru. "Setahun ini saya sedang merajuk. Industri musik kita diacak-acak pembajak," kata Doel di Jakarta, Selasa (7/12) malam. Selama kondisi industri musik Tanah Air masih begitu, ia tak mau membikin album.

Menurut Doel, industri musik Indonesia menjadi tidak nyaman akibat ulah pembajak. Ia menganalisa, pembajakan mulai marak sejak sistem royalti diterapkan. "Kalau banyak yang legal, royalti yang diterima kan besar. Saya yakin orang dalam terlibat. Kalau mau ditelusuri, sebenarnya mudah ketahuan," ujar penyanyi bertubuh rada tambun tersebut.

Doel juga menyatakan bahwa salah satu cara yang mungkin ampuh untuk memberantas pembajakan adalah dengan gerakan moral yang langsung dilakukan oleh para artis. "Kalau semua artis mau mendatangi para pedagang dan meminta rekaman yang dibajak, lama-lama para pedagang itu akan malu," tuturnya.

Langkah kedua adalah terus membangkitkan kesadaran masyarakat untuk tidak membeli produk bajakan. "Belajar malulah," ujar penyanyi tersebut, yang suaranya sama sekali tidak sumbang. (Ant/Ati)

.: dikliping dari Kompas, 9 Desember 2004 :.

Pilihan Politik: Lain Doel Sumbang lain Pula Nurul Arifin

BANDUNG, MINGGU -- Penyanyi asal Bandung, Doel Sumbang menetapkan pilihan politisnya untuk mendukung pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur (cagub-cawagub) Jawa Barat (Jabar) periode 2008-2013, Agum Gumelar - Nu’man Abdul Hakim (disingkat "Aman") meskipun berbagai pihak memusuhinya.

Doel mengingatkan semua pihak bahwa seniman juga seorang warga negara yang mempunyai hak untuk menetapkan pilihan politisnya. "Jika saya membuatkan lagu Sauyunan untuk Pak Danny Setiawan maka hal itu merupakan pilihan bisnis, tapi soal dukungo-mendukung, saya pilih yang lain," ujarnya di Bandung, Sabtu (29/3).

Doel yang juga membuatkan lagu berjudul Demi Jabar untuk kampanye pasangan "Aman" menjelaskan, tidak ada percakapan mengenai pembayaran dengan tim sukses "Aman" terkait pembuatan lagu tersebut. "Silakan Anda tanya pada siapapun (anggota) tim sukses Aman, apakah saya meminta bayaran kepada mereka," katanya.

Ia juga menegaskan dirinya adalah relawan "Aman" karena meyakini kedua sosok tersebut sangat peduli terhadap kesenian dan masa depannya. "Kedua sosok tersebut sangat peduli pada seni dan budaya dan hanya pasangan inilah yang peduli karena itu saya adalah seorang sukarelawan yang rela juga suka mendukung mereka," tegasnya.

Doel Sumbang hanyalagh salah satu artis yang mendukung pasangan "Aman". Sekitar 50 artis lainnya dalam Pemilihan Gubernur Jabar yang akan bertarung pada 13 April 2008 mendatang juga mendukung "Aman" .

Pilihan Nurul
Lain Doel Sumbang lain pula artis Nurul Arifin. Saat ini Nurul menjadi juru kampanye bagi pasangan cagub-cawagub Jabar Danny Setiawan dan Iwan R Sulanjana (disingkat Dai).Nurul juga meyakini pasangan yang didukungnya bakal menang dalam pemilihan di Kabupaten Karawang.

"Melihat antusiasme warga dan para simpatisan, saya yakin pasangan Danny-Iwan bisa menang," katanya di Lapangan Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok Kampung Bojong Tugu, Rengasdengklok Kabupaten Karawang, Sabtu.

Di hadapan ribuan peserta kampanye, Nurul minta pemilih memberikan suara untuk pasangan calon itu pada 13 April mendatang. Nurul optimistis pasangan "Dai" bisa meraih 50 persen suara dari para pemilih di Karawang karena kabupaten itu merupakan salah satu basis kekuatan Golkar.

.: dikliping dari Kompas, 31 Maret 2008 :.

Dewa Budjana Ingin Terus Bersolo Jazz

JAKARTA – Setiap seniman tetap memiliki keinginan ideal dalam hidupnya. Begitupun dengan Dewa Budjana, personel Gigi. Sekalipun sukses bersama kelompoknya dalam melahirkan album-album laris, termasuk album baru berjudul Salam ke-8, Budjana masih punya keinginan lain. ”Album solo jazz adalah keinginan ideal saya,” katanya.

Menurut Budjana, ini merupakan keinginan ideal yang ingin diwujudkannya dalam jangka waktu tertentu. Sebelumnya, dua kali Dewa Budjana mengeluarkan album solonya – dalam jangka waktu tiga tahun: 1997, 2000 dan 2003. Karyanya Nusa Damai, Gitarku dan Samsara. ”Entah kenapa saya mengeluarkan album tiga tahun sekali,” ujar lelaki ini saat ditemui SH di Kartika Chandra, Jakarta (29/5).

Tahun ini, Budjana tampil solo pada album berjudul Samsara yang terilhami buku Anand Khrisna. Gitaris yang mengagumi personel grup jazz fusion Weather Report dan Peter Erskine ini memang punya minat besar di musik jazz. Dia sempat merangkul musisi jazz senior dari Surabaya, Buby Chen. Eksplorasi musik jazz memang sangat bebas, termasuk pada instrumennya. Dewa Budjana juga menambah instrumen Jepang Shamisen pada permainannya. Pada Selain itu dia juga menggandeng Indra Lesmana, Arie Ayunir, Tohpati, Henry Lamiri, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono dan beberapa musisi lainnya pada Samsara.

Saat ada pertanyaan tentang dirinya yang putra Bali dan sulit melepaskan latar lokal itu, menurut Budjana itu bisa jadi karena masyarakat melihat dari namanya atau sikap dia. ”Bisa juga dari bahasa saya,” ujar pengagum Mahatma Gandhi ini, kalem. (srs)

.: dikliping dari koran Sinar Harapan, 31 Mei 2003 :.