Upaya Glenn Fredly Mereposisi Diri?

Bukan pembuktian tetapi keharusan buat Glenn Fredly untuk berkonser tunggal pada Minggu (1/6) malam di Jakarta Convention Center, Jakarta. Konser bertitel Intimate Concert with Glenn Fredly itu seperti mengajak penonton “mengintimi” Glenn kembali setelah konser pertamanya tahun 2004.

Kata Glenn, ”Konsep konser ini memang ingin menggali tiga hal soal keintiman. Intim secara personal, sosial, dan spiritual.” Setelah Jakarta, Glenn menyambangi Surabaya (6/6), lalu Bandung (13/6), dan Yogyakarta (18/6).

Sesaknya penonton, terutama di kelas festival, teriakan lantang penggemar, juga larutnya penonton pada setiap lantunan lagu menunjukkan konser ini sungguh hidup.

Konser Glenn ini memang seru. Selain menyanyikan lagu-lagu lembut tentang cinta (yang seperti mencitrakan seorang Glenn), sebut saja Kasih Putih dan Akhir Cerita Cinta, Glenn banyak memilih lagu-lagu berirama cepat.

Kemunculan Dewi Persik membawakan Hikayah Cintaku menambah seru suasana. Hikayah Cintaku adalah satu judul di album teranyar Glenn, Private Collection, yang dirilis 2 Juni 2008. Suitan penonton pun membahana. Geletar tubuh Dewi tidak berbeda dengan geletarnya saat berjoget dangdut.

Senior Artist & Repertoire Director Sony BMG Jan N Djuhana menilai Glenn berbeda dengan penyanyi solo lain. Musisi asal Ambon itu tidak hanya bisa menyanyi, tetapi juga menghibur dengan interaktif sehingga membuat emosi penonton larut bersamanya. Ia tidak berjarak dengan penonton sehingga 40 lagu yang ia nyanyikan mengalir tanpa terasa.

Satu hal prinsip yang membuat Glenn berbeda, kata Jan, ia juga mencipta lagu-lagunya sendiri sehingga ia mampu dengan persis menghayati lirik. Ketika berada di panggung, ia pun tak hanya menyanyi dan berjoget, tetapi juga memainkan beberapa instrumen musik. ”Saya sudah lihat banyak konser Glenn yang di kafe-kafe atau dulu di Balai Sarbini. Saya rasa dia belum ada saingan,” ujarnya.

Mereposisi Diri?
Dalam kurun waktu empat tahun, dari konser pertama ke konser kedua, suami penyanyi Dewi Sandra ini melepas tiga album, yakni OST Cinta Silver (2005), Aku dan Wanita (2006), dan Happy Sunday (2007). Semuanya produksi Sony BMG.

Ketika album terakhirnya, Happy Sunday (2007), kurang direspons pasar, ”hanya” terjual 70.000-an keping, ada yang menilai karier Glenn mulai turun. Bandingkan dengan album Selamat Pagi, Dunia! (2003) yang terjual 800.000-an keping. Lagu Januari dan Sekali Ini Saja yang ada di album itu bahkan masih bergaung sampai kini.

Keberhasilan Selamat Pagi, Dunia! mengantarkan pembuatan album Repackage Selamat Pagi, Dunia (2004). Sesuai judulnya, album ini mengusung lagu-lagu di dalam album sebelumnya. Namun, tiga lagu baru, yakni Sedih Tak Berujung, Akhir Cerita Cinta, dan Habis, tetap memberi warna baru. Apalagi, lagu-lagu itu direspons dengan baik oleh pasar.

Apakah konser kedua ini adalah upaya Glenn untuk mereposisi diri? ”Saya tidak perlu repot untuk demikian. Saya menempatkan diri saya di center, di musik itu sendiri. Jadi, saya terus mengeksplorasi diri tanpa harus memikirkan posisi saya di mana,” ujarnya.

Jika masyarakat telanjur menjulukinya sebagai penyanyi spesialis lagu-lagu cinta, Glenn tidak mempermasalahkannya. Namun, ia sendiri akan selalu mencari sesuatu yang baru. ”Saya tidak akan membuat Januari 2, misalnya, karena lagu itu sukses. Saya tidak melakukan repetisi,” jelasnya. Meski, hingga saat ini ia mengakui, belum menciptakan lagi lagu sebagus Januari, yang menjadi master piece-nya.

Idealis yang Kompromis
Menurut Jan, Glenn akan terus bisa diterima pasar asalkan ia bisa menyelaraskan idealisme bermusiknya dengan dunia industri yang notabene mengambil indikator selera pasar. Idealis yang kompromis.

”Asal Glenn jangan egois. Bukan apa-apa. Masalahnya, kondisinya itu, kalau musisi melangkap dua langkah, pendengar atau pembelinya masih jalan di tempat,” terang Jan.

Soal selera pasar, dan pasar sebagai satu unsur pembentuk industri, dipahami Glenn sebagai sesuatu yang harus disikapi dengan cerdas. ”Saya mengikuti pasar, tetapi harus punya prinsip,” katanya. Ia membuka diri dan fleksibel dalam bermusik, tetapi tanpa harus kehilangan identitas.

Ia mengakui, konsep musiknya memang sudah bercampur baur. Namun, justru itulah bukti sebuah eksplorasi, baik soal aransemen musik maupun tema lagu. Dalam album Happy Sunday, misalnya, satu lagu secara tidak langsung berbicara mengenai global warming, yakni Sayangi Bumi Hari Ini.

Soal lesunya penjualan album, kata Jan, merupakan fenomena dunia. Berdasarkan data dari Asiri (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), pada tahun 1995 jumlah penjualan album lagu di Indonesia mencapai 80 juta keping, sedangkan tahun 2007 meluncur turun menjadi tinggal 19 juta keping.

Untuk itulah, maka pemberian penghargaan platinum diturunkan dari jumlah penjualan 150.000 keping menjadi 75.000 keping. Adapun untuk kategori gold diturunkan dari 75.000 keping menjadi 35.000 keping.

Jadi, kalau penjualan album Happy Sunday mencapai 70.000 keping, ya berarti sudah bagus. [Susi Ivvaty]

.: dikliping dari koran Kompas, 8 Juni 2008 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar