SEIKAT KEMBANG BUAT KEKE

Seorang gadis manis berkacamata tipi, membawa tiga tangkai mawar merah yang diikat pita kuning gadis yang masih mengenak seragam SMA putih abu-abu itu, kemudian berdiri terpaku. Kepalanya sedikit ditundukkan.

Hanya beberapa saat, dia kemudian berjongkok. Mawar yang ada digenggamannya, lalu digeletakkan di pinggir tembok setinggi hampir satu meter.

“Bunga ini buat teh Keke,” kata gadis bernama Desi Krisantri (16) siswi SMA di Cihampelas Bandung ini, dengan suara lirih. Matanya berkaca-kaca. pandangannya, diarahkan pada tempat kecelakaan teh Keke, orang yang dikaguminya.

Teh Keke yang dimaksud adalah panggilan akrab Nike Ardila (19) artis, penyanyi dan bintang iklan yang tewas Minggu (19/3) pagi lalu setelah Honda Genio yang dikemudikannya menabrak tembok pagar setinggi hampir satu meter. Rupanya kematian Nike Ardilla yang bernama asli Nike Ratnadila, bukan hanya dirasakan keluarganya. Nike Ardila sudah menjadi milik masyarakat. Sehingga kematiannya, juga ditangisi para penggemarnya.

Bukan hanya Desi yang meletakkan seikat bunga di tempat kematian Nike Ardila. Para penggemarnya, terutama remaja dan ibu-ibu, juga turut menundukkan kepala dan berdoa di tempat kecelakaan terjadi, Jl RE Martadinata 215 Bandung. Bahkan satu keluarga di Jl. Setrasari Bandung, meletakkan karangan bunga cukup besar di tempat kematian Nike, sebagai tanda duka cita tas kematian gadis seberkas sinar ini.

**
Keluarga dan penggemarnya, memang masih menangisi kepergiaan Nike. Meski demikian, polisi tetap berkeyakinan, berdasarkan penyelidikannya kematian Nike karena kecelakaan. Tidak ditemukan indikasi lain dalam kecelakaan tersebut.

“Tegasnya peristiwa ini kecelkaan tunggal. Mobil yang dikemudikan Nike menabbrak, kemudian pengemudinya meninggal, kata Kapolwiltabes Bandung Kolonel (Pol) drs. Didi Widayadi.

Karenanya polisi mengimbau agar jangan menanggapi isu macam-macam yang berkembang di seputar kematian Nike. Apalagi jika dikatakan, karena mabuk atau sebelumnya menelan obat-obat terlarang. “Laporan mengenai dugaan itu tidak ada,” tegas Didi Widayadi.

Di kendaraan Genio D 27 AK yang dikemudikan Nike, juga tidak ditemukan barang-barang yang mencurigakan. Polisi hanya menemukan kosmetik dan perlengkapan wanita. “Jadi tidak perlu menduga macam-macam,” ujar Didi.

Sementara itu staf ahli laboratorium dinamika pada Pusat Antar Universitas (PAU) Institut Teknologi Bandung, dr. Ir Andi Isra Mahyudin menyoroti kondisi ban yang dikemudikan Nike. Saat musibah terjadi, kendaraan yang ditumpangi Nike dan kawan dekatnya Sopiatun Wahyuni, ukuran bannya berbeda.

Tiga ban kendaaan, yakni sepasang ban rodan depan dan roda belakang kanan menggunakan ban radial 205/50ZR16. Sedangkan roda belakang kiri menggunakan ban ukuran 125/70D14 dengan ukuran garis tengah velk dan ban jauh lebih kecil. Velk dan ban tersebut biasanya digunakan untuk kendaraan sejenis minibus.

Menurut Isra Mahyudin, kendaraan dengan kondisi seperti itu bisa mengalami kurang keseimbangan. Pada kecepatan rendah, pengaruhnya mungkin saja tidak begitu terasa. Tetapi makin tinggi gerak kendaraan, pengemudi akan mengalami kesulitan mengontrol karena besarnya gaya tidak balance selalu berbanding kuadrat kali kecepatan putar.

Untuk satu poros yang memiliki ban berbeda, maka ban yang lebih kecil akan berusaha menyesuaikan dengan putaran linier band yang lebih besar. Sehingga bentuk penyesuaiannya adalah terjadinya slip pada ban yang lebih kecil supaya jarak tempuh tetap sama. Dalam kecepatan tinggi, slip pada salah satu sisi tersebut makin tinggi dan menimbulkan gaya tidak balance makin besar. Efek pengereman tak ada lagi dan pengedalian kendaraan menjadi sulit sehingga pada akhirnya kendaraan hilang keseimbangan.

Tetapi bisa saja faktor tersebut hanya merupakan unsur sekunder dalam sebuah peristiwa kecelakaan. Faktor lain sebagai sebab utamanya mungkin saja karena unsur utama lainnya. Misalnya bagaimana steering system kendaraan dan bagaimana faktor manusia yang berada di belakang kemudi.

Menurut dia, biasanya dalam pengusutan peristiwa kecelakaan ada petugas yang khusus melakukan rekonstruksi kejadian. “Saya tidak tahu apakah di Bandung ada atau tidak,” katanya. Melalui rekonstruksi penyebab utamanya. Sementara itu, teman akrab almarhum, Sopiatun Wahyuni, sudah pulang dari Rumah Sakit Santo Yusu Bandung, selasa kemaren sekitar jam 11.00 wib. Namun Atun, demikian panggilan Sopiatun, tidak langsung pulang ke rumahnya di Jalan Sarijadi Blok D Lantai II No 12 Bandung. Diperkirakan, Atun bersama orangtuanya, pergi ke Ciamis menemui orangtua Nike Ardila.

Di rumah Nike Ardila, di Jalan Parakan Saati No 37, nampak sepi hanya ada beberapa orang anggota keluarga almarhum sedangkan orang tua Nike, R Eddy Kusnadi dan Nining Sirat, pergi ke Ciamis, Jabar. Sampai hari ketiga kematian Nike, masih banyak wartawan yang berusaha menemui pihak-pihak yang terkait dengan kecelakaan penyanyi belia nan cantik Nike Ardila.

.: dikliping dari koran Kompas, 22 Maret 1995 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar