LAGU-LAGU NIKE ARDILA TIBA-TIBA MEMBAHANA DI PENJURU IBU KOTA

Jakarta, Kompas.

Lagu-lagu Nike Ardila tiba-tiba membahana di segala sudut-sudut ibu kota Jakarta dalam dua hari belakangan ini. Bahkan toko-toko kaset juga diserbu para pembeli yang menaruh simpati atas musibah tewasnya artis dan penyanyi muda ini. Identifikasi massa atas usia Nike yang baru 19 tahun namun kariernya sedang menanjak, menempatkan dirinya seolah mewakili suatu kesedihan abadi.

Di seputar Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, suara Nike Ardila melantun jauh dari kios satu ke kios lain. Para pedagang kaki lima memutar kaset penyanyi slow rock ini sekeras-kerasnya di tengah lalu lalang manusia yang berjubel. Ratapan Nike mengenai kegagalan hidup, cinta, luka, dan kesendirian, mirip klimaks di tengah pasar yang penuh “kekerasan” itu.

Histeria lagu-lagu nike juga merambah di pusat perbelanjaan Blok M Mall, Plaza Slipi Jaya, Pasar Baru dan Pasar Glodok di kawasan Jakarta Barat. Pengeras suara dari sejumlah toko-toko terkemua di kawasan tak ketinggalan melantunkan lagu-lagu Nike. Malahan para pedagang kaki lima di berbagai tempat ikut latah memutar kaset Nike. Di Pasar Palmerah, sejumlah tokoh kaset Nike mengaku kelabakan melayani pembeli kaset nike. “Saya heran justru yang dicari kaset Nike,” kata seorang penjual.

Sementara di berbagai pojok jalanan, remaja-remaja yang berkerumun juga memutar kaset Nike. Bahkan pedagang es krim yang berjualan dengan sepeda tidak mau kalah. Melalui pengeras suara melantunkan suara Nike. Mirip suara kegalauan massa, tiba-tiba khalayak seperti tersentak dan merasa menyesal kehilangan Nike.

Di berbagai karaoke di ibu kota, lagu-lagu Nike menempati urutan teratas dalam dua hari ini. Dari karaoke kelas atas seperti Regent di Glodok Jaya Building hingga yang paling gurem, lagu-lagu Nike seperti Bintang Kehidupan, Bayang-Bayang Hitam, Tinggalkan Aku Sendiri dan sejumlah lagu lainnya, melantun dari ruang yang satu ke ruang lainnya. “Kami sampai kekurangan disc lagu-lagu Nike karena begitu banyaknya permintaan,” ujaar seorang operator karaoke.

“Lihat wajahnya, begitu muda dan cerah. Tapi dia sekarang sudah tidak ada,” ujar Della (21), pramuria di salah satu karaoke di pusat kota jakarta, sembari menghapus air mata. Sedang maya, rekannya, terus melantunkan lagu-lagu Nike mgenikuti layar karaoke. Kedua wanita ini merasa kesedihannya kali ini sangat dalam, bahkan hingga lupa penderitaan mereka sebagai wanita penghibur.

“Saya merinding melihat wajah Nike di layar TV itu. Ternyata batas antara hidup dan mati sangat tipis. Kemari tertawa, sekarang sudah lenyap,” ujar Iwan Aryadi, general manajer karaoke barcelona di pusat pertokoan Lokasari, Jakarta Barat, sembari menunjukkan bulu lengannya yang berdiri. Ia sekarang berpikiri keras untuk membuat acara mengenang Nike Ardila.

Meledak
Sementara itu pasaran kaset Nike Ardila di sejumlah toko di Jakarta sampai hari Rabu (22/3) kemarin secara tidak terduga sangat laris. Beberapa album kaset nike malah menghilang di pasaran. Seperti album The Best of Nike Ardila mulai sulit dicari. Padahal, kaset yang dipasarkan tahun lalu itu menurut salah seorang pramuniaga di toko kaset terkemuka Aquarisus di bilangan Jalan Mahakam, Jaksel, sebelumnya tidak mencatat lonjakan penjualan.

Di toko ini, kaset yang berisi 20 lagu terbaik nike itu justru tidak ada. Yang hanya kelihatan di pajang adalah volume terakhir dari nike dengan judul sandiwara cinta. “Kaset ini juga laku keras,” kata kasir di toko tersebut.

Di toko kaset Mirah Jaya, di Jalan Sultan Hassanudin, kabayoran baru, juga terjadi lonjakan penjualan kaset Nike. Beberapa album kaset Nike seperti Biarkan Cintaku Berlalu dan Tinggallah Aku Sendiri malah sudah menghilang dari pajangan, sedangkan kaset dengan judul The Best of Nike Ardila, menurut salah seorang pramuniaga toko ini mendapat droping baru dari Blackboard Rabu pagi. ”Ini saja tersisa satu lagi,” katanya sambil menunjuk ke rak di mana kaset Nike diletakkan.

Menurut perhitungan kasar toko ini, dalam dua hari saja sudah tercatat 60 kaset Nike terjual dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp. 5250-7000. “Bukan tidak mungkin harga kaset Nike nantinya bakal naik lagi,” katanya.

Di toko ini, terlihat sejumlah remaja sedang mencoba kaset Nike. Beberapa remaja putri secara tidak sadar menitikkan air mata.

Gunung Ardilaya
Hingga Rabu 22/3 kemarin, para pelayat terus berdatangan ke makam Nike Ardila di pemakaman umum Pasir Cidudu Desa Imbanagara Kecamatan/Kabupaten Ciamis, Jabar. Taburan bunga masih menghiasi kuburannya dan di pusaranya tertulis Nike Ratnadila binti RE Kusnadi, Lahir 27 Desember 1975, wafat 19 Maret 1995.

Nama artis itu menurut RA Markusmara, salah seorang anggota keluarganya di Ciamis, memang Nike Ratnadila. Pada saat akan melejit namanya sempat diganti menjadi Nike Astrin. Namun setelah diganti lagi kepanjangannya dengan Ardila, penyanyi muda dan cantik ini terus meroket.

Nama Ardila diambil dari Gunung Ardilaya di Desa Cisadap Kecamatan Ciamis, tetangga Desa Imbanagara. Nama itu adalah Karuhun keluarga Nike di Ciamis.

Menurut RA Markusmara yang bertugas menerima para pelayat, Ny. Hm Ardans bersama anaknya Andra, yang disebut-sebut sebagai kekasih Nike, melayat ke Ciamis Selasa siang.

Seorang tukang semi sepatau dari Cilacap, Jateng Rabu kemarin melayat ke sana dengan maksud akan menyemir sepatu almarhumah sebagai ungkapan rasa belasungkawa terhadap artis pujaannya itu.

Menurut Trisno, penyemir sepatu ini, dia pergi ke Ciamis setelah teman-temannya mengumpulkan uang untuk ongkos.

“Semula kami akan membangun madrasah dan uangnya semuanya akan ditanggung neng Nike,” ujar Markus serasa wajahnya menunduk sedih. Tapi jalan ke makam umum sepanjang 400 meter dari Jalan Raya Ciamis-Tasikmalaya akan segera diperlebar oleh keluarga artis muda itu. “Nantinya pemakaman umum itu akan diganti namanya menjadi pemakaman Nike Ardila untuk mengenang almarhumah,” ujarnya.

Tak kalah sedihnya dengan meninggalnya Nike adalah R Sutardjo (58), pimpinan Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara yang menangani anak-anak cacat pada SLB bagian B dan C. Yayasan ini berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Bandung dan kini menampung 80-an anak-anak cacat mulai dari tunarungu hingga anak tunanetra. “Selama ini neng Nike merupakan penyumbang tunggal yayasan kami. Beli kendaraan pun dari neng Nike, sebab anak-anak itu rumahnya jauh-jauh dan harus dijemput,” ungkap Sutardjo.

Tidak Mabuk
“Saya jamin, saat kecelakaan terjadi Nike tidak mabuk. Karena sebelumnya, Nike hanya minum Orange Juice,” kata Sopiatun Wahyuni, teman dekat sekaligus asisten Nike Ardila yang saat musibah terjadi duduk satu kendaraan di samping kiri Nike.

Selasa (21/3) pagi Sopiatun diperkenankan kembali ke rumahnya setelah dua hari dirawat di Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung. Sopiatun mengalami benturan keras ketika mobil Honda Civiv Genio D 27 Ak yang dikemudikan Nike Ardila, Minggu (19/3) pagi menabrak pagar tembok di Jl. R.E. Martadinata 215 Bandung.

“Nike minum Orange Juice di Diskotik Pollo Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 Wib,” kata Sopiatun ketika dijumpai Kompas di kediamannya di Jl. Sariadi Blod D-12 Bandung, Rabu (22/3). “Saya juga heran, karena biasanya, Nike pesan Vodka Orange Juice, minuman kesukaannya,” tambah Sopiatun.

Karena itu dia membantah jika dikatakan Nike dalam keadaan mabuk saat kecelakaan itu terjadi. “Kelihatannya, Nike, lelah saat itu. Maklum dia baru pulang shooting sinetron Warisan II di Bogor,“ tambah Atun, panggilan pendek Sopiatun.

Secara rinci Atun menjelaskan kronologis saat-saat sebelum menjelang musibah itu terjadi. Menurut penuturannya, Nike Ardila bersama Sopiatun diantar sopir Alim berangkat dari Bogor pukul 20.00 Sabtu malam. Sekitar pukul 23.30, mereka sudah tiba di rumah Nike, Jl. Parakan Saati No. 37.

Hanya sebentar di rumahnya, Nike dan Atun, kemudian berangkat lagi karena harus menghadiri acara cover boy/irl yang diselenggarakan majalah Aneka di Studio East (SE) Jl. Cihampelas Bandung. Nike sendiri yang mengemudikan Honda Accord Genio pemberian pacarnya, Andra Fahreza, anak Gubernur Kalimantan Timur HM. Adans itu. Sedangkan pak Alim, disuruhnya beristirahat di rumah Nike.

Sebelum pergi, Sopiatun, Nike sempat berpamitan dan minta maaf pada ibunya. “Mamih, Neneng (panggilan Nike di rumah, red.) mau pergi. Kalau ada kesalahan maafin Neneng,” ujar Sopiatun menirukan ucapan Nike saat itu.

Namun sebelum sampai di Studio East, Nike menerima telepon dari Edi Bogel. Fotografer majalah Aneka, yang memberitahu agar Nike langsung ke Hotel Jayakarta. Karena acara yang harus dihadiri Nike sudah selesai dan sebagian pesertanya menunggu di Jakarta Suite Hotel.

Hanya beberapa saat di Jayakarta Suite Hotel, Nike dan beberapa peragawan-peragawan kemudian berangkat ke Diskotik Pollo, Bandung, sekitar pukul 01.00. “Di tempat ini, Nike hanya memesan Orange Juice. Dan saat itu Nike lebih banyak diam,” tegas Sopiatun.

Sekitar pukul 03.00 Minggu dini hari, Nike, Sopiatun, Edi Bogel dan dua orang temannya meninggalkan Diskotik Pollo. Ketika di tempat parkir diskotik itulah, petugas parkir memberitahu bahwa ban belakang mobil Nike yang sebelah kiri kempes. Saat itu pula, teman-teman Nike membantu menggantikan ban yang kempes itu dengan ban cadangan. Ukuran ban cadangan memang lebih kecil, tetapi merupakan ban standar Genio. Dari Pollo, Nike dan kawan-kawannya kemudian makan di Kintamani Jalan Lombok Bandung. “Saat itu Nike hanya memesan bubur jagung,” kata Sopiatun.

Karena capai, Nike minta izin pulan lebih dulu sekitar pukul 04.30. Namun sebelum kembali ke rumahnya, Nike mengantar kawan-kawannya ke Hotel Jayakarta, Nike menyusuri Jalan Dago, Jalan Trunojoyo dan terus ke Jalan R.E. Martadinata. “Saat itulah laju kendaraan mobil tidak stabil. Walaupun hanya melaju dengan kecepatan sekitar 40 km per jam,” ujar Sopiatun.

Di Jalan R.E. Martadinata, Nike bermaksud menyalip kendaraan Corono di depannya yang melaju sangat pelan. Tetapi tiba-tiba saja, dari arah depan, datang Daihatsu Taft yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Nike yang saat itu mengemudikan kendaraan, langsung membanting setir ke arah kiri. Tetapi akibatnya fatal, karena kendaraan tersebut menabrak pagar tembok,” selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. Saya sadar, setelah di rumah sakit,” ujar Sopiatun.

.: dikliping dari koran Kompas, 23 Maret 1995 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar