JAZZ KETEMU GAMELAN!

Ada keindahan musik spiritual NJO. Tersedia debit nada Casiopea nan elektris. Juga kehebatan power Dirty Dozen.

Hajatan Jak Jazz 91 akhirnya dimulai 19 November lalu. Sempat terlambat di hari pertama, toh penonton jazz muda boleh berjingkrak menyaksikan kepiawaian Casiopea dari Jepang. Atau bergoyang samba bersama Paulo Ramos.

Isei Noro (gitar), Minoru Mukaiya (keyboards), merupakan inspirator dari debit nada yang dipancurkan Casiopea. Pun di seksi rhytm, permainan bass Yoshihiro Naruse sungguh agresif. Sayang Masaaki Hiyama belum setara betul dengan Akira Jimbo, drummer yang keluar dari formasi Casiopea, tahun lalu.

Serba canggih, elektris, mereka memang menggoyang panggung Jak jazz. Tapi kalau soal keindahan New Jungle Orchestra tak salah betul dipasang sebagai kelompok pamungkas pada pertunjukkannya di Jakarta. Berbagai corak musik etnis meleleh dalam komposisi NJO. Dari Afrika hingga ke Bali. Toh meski begitu, Pierre Dorge sang komandan sama sekali tak meninggalkan jazz. Lihat saja permainan gitarnya nan sentimentil saat nomer St. Louis Blues gubahan Bapak Blues:

Christoper William Handy dilantunkan dengan tempo lambat seraya didekorasi lantunan tenor saksofon. Atau pada nomer Duke Ellington, Mouche.

Ritme dan melodi Afrika juga menyengat lewat komposisi istri Dorge, Irene Becker, Monkey Forest atau juga dalam Kera Dorong. Yang paling menarik dari NJO, apalagi kalau bukan pertemuan musik orkestranya dengan kelompok gamelan Bali, Taruna Mekar. Apa Kabar, From Copenhagen to Ubud, dan Manuk Rawa, merupakan 3 nomer etnis yang memikat. Tanpa kesan tempelan, seluruh permainan musik tiup itu mencair, bersatu. "Padahal saya baru bertemu sehari sebelum pertunjukan dengan kelompok gamelan ini," kata Dorge, yang juga menyelipkan 1 nomer Betawi, Jali Jali yang orkestrasinya sungguh indah karena detailnya diisi oleh improvisasi.

Musik yang tak kalah bagus juga ditampilkan Dirty Dozen Brass Band. Dengan gebukan perkusi ala Afro-Cuban mereka membuat para penonton tak tahan lagi untuk bergoyang. Sayang DDBB cuma main semalam, karena mereka tak datang khusus untuk festival saja. Meski begitu keplok riuh diberikan para penonton untuk nomer gaya Jamaica, Voodoo. DDBB memang bikin hati bergairah lewat nomer Me Like It Like That—yang kalau saja dibawakan dengan marching band seraya berjalan kaki keliling lapangan, bukan tak mungkin banyak penonton kesurupan.

Meniup terompet, trombon, saksofon apalagi sousafon memang bukan persoalan mudah. Apalagi mereka antara lain membawakan corak jazz modern semisal bebob yang cepat. Tapi band beranggota 8 orang itu sungguh memperlihatkan power yang luar biasa.

Jak Jazz kali ini memang variatif. Selain NJO, ada juga grup Percussion Orchestra yang menggarap musik etnik. Juga ada Eddie Monteiro pemain arkodeon yang kerap ber-jam session dengan Douglas verga, Benny Likumahuwa, Bubi Chen, Igor dan kedua putra kembarnya: Alex dan Dmitri Brill plus vokalis Rebeca Lily.

Sampai hari ketiga, masyarakat yang datang ke Ancol memang makin bertambah. Mereka sudah menyaksikan kehebatan James Morrison, Future Shock, atau Java Jazz-nya Indra Lesmana. "Mungkin pada akhir minggu bakal membludag," ujar ketua pelaksana Jak Jazz, Ireng Maulana yang sedang sibuk mengatur penambahan kursi bagi penonton di Cafe yang terletak di dalam arena.

Optimisme itu boleh dibilang tepat, karena bakal ada gitaris Lee Ritenour, saksofonis Ernie Watts dan vokalis Phil Perry yang amat beken di sini. Belum lagi dari Prancis, kelompok Sixun yang mempersona penontondi Bandung bakal naik panggung juga. Lepas dari segala kekurangan, Jak Jazz memang bermanfaat untuk memperkaya pengalaman batin penonton. Paling tidak, karcisnya murah. *Eddy Suhardy*

.: dikliping dari majalah Jakarta Jakarta No. 282, 23-29 November 1991, hlm. 98-99 :.

1 komentar:

  1. hhhhmmmm...
    info bagus.. :D
    tapi,,dimna saya bisa mencari lagu nya Christoper William Handy?
    bagi yang punya..mophon di share donk..
    we8830@gmail.com
    makasih.

    BalasHapus