Jalan Hidup Rock Ian Antono

SEDERET artis muda membuat album khusus untuk Ian Antono (53). Album berjudul A Tribute to Ian Antono terbitan Sony Music itu antara lain melibatkan band Sheila on 7, Padi, GIGI, Cokelat, /rif, juga penyanyi Glenn Fredly sampai Audy.

SEBAGIAN besar dari mereka masih balita, bahkan ada yang belum lahir, ketika Ian Antono terkenal sebagai gitaris God Bless pada pertengahan 1970-an. Eross (25), gitaris Sheila on 7 itu misalnya, sepantaran dengan Stevan Antono, anak sulung Ian.

Mereka menyanyikan lagu Ian Antono seperti Panggung Sandiwara yang liriknya ditulis Taufiq Ismail. Lagu yang dipopulerkan Duo Kribo-Ahmad Albar dan Ucok Harahap-pada 1978 itu dinyanyikan Sheila on 7. Ada juga lagu Ian Neraka Jahanam, Rumah Kita, sampai Zakia.

Era telah berganti, dan Yusuf Antono Djojo, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950, itu menyaksikan hadirnya rocker muda di belantika musik.

"Dari dulu saya ingin rocker tua dan muda itu nyambung. Tidak seperti dulu yang kayaknya ada gap. Kami juga membutuhkan mereka, untuk bertukar pengalaman," kata Ian yang menganggap album Tribute itu sebagai penyambung generasi rocker 1970-an dan hari ini.

Ian masih berpenampilan muda. Rambutnya yang gondrong setengkuk kini memutih sebagian. Konon, menurut Titik Saelan, istri Ian, itu merupakan rambut terpendek yang pernah dipelihara Ian. Selama lebih dari tiga puluh tahun dia terus memelihara rambut hingga sepunggung.

Rambut itulah yang pernah menjadi pelengkap penampilan Ian sebagai rocker di zaman jaya God Bless, era 1970-an sampai awal 1980-an. Atribut wajib lain rocker saat itu adalah sepatu berhak tinggi serta kostum serba ketat, termasuk baju dan celana kulit.

"Dulu dandanan rock itu memang cenderung seperti itu. Padahal kalau hari-hari biasa saya sebel juga pake yang kayak gitu," kenang Ian.

SELAIN dikenal sebagai gitaris, Ian adalah seorang pencipta lagu, penata musik, dan produser. Tak kurang dari 400 lagu pernah ditulis Ian, termasuk di antaranya Jarum Neraka, Tangan Setan, yang dipopulerkan Nicky Astria pada pertengahan 1980-an. Ian juga membuat lagu berirama padang pasir, seperti Zakia yang dilantunkan Ahmad Albar pada tahun 1979.

Sebagai penata musik, Ian pernah menangani artis seperti Nicky Astria, Iwan Fals, Anggun C Sasmi, Emilia Contessa, Anna Matovani, sampai Grace Simon.

Ian mulai aktif menulis lagu dan menata musik ketika God Bless mempersiapkan album Huma di Atas Bukit pada 1976. Pada awalnya, tidak mudah bagi Ian untuk membuat lagu. Ada semacam proses transformasi dari sekadar bermain ke penciptaan.

Saat bermain pada band Bentoel pada 1971, sampai ketika bergabung dengan God Bless sejak 1974, Ian terbiasa memainkan musik seperti Deep Purple, Alice Cooper, Jethro Tull, Edgar Winter, dan James Gang. Penampilan fisik, gaya panggung, dan musik bisa ditiru. Namun, giliran memasuki wilayah penciptaan, Ian mengaku tidak mampu lagi sekadar meniru. Ian mengaku tidak dapat seratus persen membuat lagu seperti lagu ciptaan rockers Barat.

"Walau sudah lama nge-rock, ternyata bikin lagu itu tidak gampang. Waktu kita bikin musiknya, bau ndeso itu masih tetap ada. Kuncinya ternyata ada di jiwa, dan ternyata kita tidak bisa jadi bule."

Kata ndeso yang dimaksud Ian adalah rasa personal. Rasa tersebut terbentuk dari endapan memori dengaran yang diserap Ian sejak kecil. Pengaruh Jawa, Bali, atau Melayu, menurut Ian, akan keluar dengan sendirinya begitu ia membuat lagu sendiri. Harap maklum, sewaktu menjadi pemain ketipung dalam band bocah di Malang, Ian sering memainkan lagu Melayu sejenis Ayam Den Lapeh-nya Orkes Gumarang pimpinan Asbon itu.

"Lagu Tangan Setan dan Jarum Neraka itu, menurut kawan saya orang Malaysia, katanya terdengar Jawa."

Ian Antono termasuk generasi awal pemusik rock keras yang harus menulis lagu rock dengan lirik berbahasa Indonesia. Seperti banyak musisi rock keras lain, Ian juga terkesan pada unsur bunyi dari musik rock, terutama dari distorsi suara gitar.

"Rock itu berkait dengan bunyi. Makanya orang mengatakan gitar rock itu meraung-raung, bukannya berdenting," kata Ian yang antara lain menggunakan gitar Hamer dan Ibanez.

Unsur suara yang meraung-raung itulah yang ketika dialihkan ke dalam lirik menimbulkan pencitraan serba keras atau sangar. Termasuk lagu Ian seperti Neraka Jahanam, Jarum Neraka, dan Tangan Setan.

"Waktu itu kalau liriknya yang indah-indah rasanya kok enggak masuk," kenang Ian.

Belakangan Ian telah mampu melepaskan citra keras dari rock dan lahirlah lagu sejenis Rumah Kita. Lagu yang dipopulerkan God Bless pada 1987 itu menyuarakan perasaan Ian yang merasa lebih merdeka setelah hidup mandiri dengan mengontrak rumah sederhana di Tebet.

"Kami hidup sederhana, tapi nikmat. Kami nyuci pakaian berdua. Kami membesarkan anak berdua. Kami senang main band tanpa berpikir band ini bisa menghidupi atau tidak," kata Ian yang saat ditemui didampingi sang istri, Titik Saelan, pemain drum Princes Tone.

Mereka menikah pada 1974 dan kini mempunyai tiga anak. Mereka adalah Stevan (25), Rocky (21), dan Monica (19) yang semuanya masih kuliah. Evan dan Rocky kini membentuk band Gallagasi yang juga tampil dalam album A Tribute to Ian Antono.

Ian selama ini menghidupi keluarganya dari musik rock. Ian mulai dari band bocah di Malang, kemudian ikut band keluarga Zodiacs bersama kakak-kakaknya. Ian saat itu menyukai lagu-lagu dari The Shadows atau The Ventures dan dia tertarik pada permainan gitar Hank Marvin, gitaris The Shadows.

Pada 1969 Ian ke Jakarta bersama Abadi Soesman, bermain musik di Hotel Marcopolo. Dua tahun kemudian kembali ke Malang untuk bergabung dengan band Bentoel, Malang, sebagai pemain drum dan kemudian beralih ke gitar. Pada 1974 Ian diminta Ahmad Albar bergabung dengan God Bless. Pada awal 1990-an Ian membentuk Gong 2000.

Lebih dari tiga dekade, Ian hidup dari musik rock. Beberapa kali ia pernah vakum dari kegiatan musik. Namun, dia tetap bertahan hidup di musik rock. Sudah mapan?

"Enggak juga. Kami bergerilya terus dari muda sampai tua ha-ha...."

Namun, Ian mengaku bahagia hidup di jalan rock. (FRANS SARTONO)

.: dikliping dari website Kompas, 14 Mei 2004 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar