Ian Antono Dibikin Kaget Band Daerah

JAKARTA, KAMIS - Gitaris grup rock legendaris Ian Antono mengaku sedang senang. Bagaimana tidak, kebebasan sahabat dan teman ngeband-nya dalam God Bless, Achmad Albar, setelah mendekam di bui selama delapan bulan, memberi peluang bagi kelompok mereka itu untuk bisa kembali beraktivitas di jagat industri musik Tanah Air.

"Kesempatan kembali masuk dapur rekaman sekarang terbuka. Sudah lama tertunda-tunda, jadi secepatnya kami akan segera masuk dapur rekaman. Awal Agustus ini lah," kata Ian di Jakarta, Kamis (17/7).

Diakui Ian, ketika Iyek--begitu Achmad Albar disapa--mendekam di tahanan selama delapan bulan lantaran tersandung kasus narkoba, nyaris tak ada aktivitas manggung yang dilakukannya. Meski begitu, bukan berarti ia meninggalkan sepenuhnya dunia musik. Suami Titi Saelan--mantan drummer band Princess Tone--memilih menyibukkan diri dengan terlibat dalam proses penjaringan grup-grup musik di Indonesia untuk dimasukkan dalam penggarapan delapan album kompilasi. "Jadi kalau dibilang vakum sih enggak juga. Beberapa bulan lalu, saya bareng Iwan Xaverius (dari band Jet Liar) dan Pay (bip) menyeleksi grup-grup di daerah. Ini bukan pekerjaan mudah untuk menyeleksi mereka," ceritanya.

Lebih dari dua ratus grup band mengirimkan master karyanya untuk disaring agar bisa lolos di album kompilasi. Tugas, pemilik nama Yusuf Antono Djojo, yang kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950, ini tentu saja menyeleksi band-band mana saja yang layak masuk dalam delapan CD kompilasi. "Tugas saya dan teman-teman hanya menyeleksi, tidak sampai mengubah aransemen. Lagu-lagu yang sekarang masuk dalam album-album kompilasi tersebut adalah karya-karya orisinal dari mereka," terangnya.

Lebih tiga bulan, ia dicekoki album-album anak band dari hampir seluruh Tanah Air. ian mengaku terkagum-kagum. "Jujur saya kaget. Kalau dipoles, jatuhnya pasti akan lebih bagus. Saya akan senang bisa terlibat apabila mereka buat album sendiri ke depan," ujarnya.

Menurut Ian, ia memiliki alasan mengapa mau terlibat di kegiatan semacam itu. "Saya senang dengan niat yang diusung. Album ini tidak semata-mata cari keuntungan, tapi memberi kesempatan buat band-band di daerah," ujarnya lagi.

Apa yang disampaikan Ian boleh jadi ada benarnya, mengingat satu album kompilasi tersebut hanya dijual dengan harga Rp8.000. "Jadi, kalau beli satu paket--berisi delapan album dengan delapan jenis warna musik--hanya Rp60.000. Kalau masih dibajak, ya keterlaluan juga," katanya.

Apa tak ada rencana juga album God Bless yang baru nanti dijual dengan harga miring? "Wah, belum tahu juga ya. Itu harus diobrolkan dulu," jawabnya. (EH)

.: dikliping dari website Kompas, Juli 2008 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar