Ian Antono Takluk oleh Anak

Ian Antono akhirnya menyerah kepada kegigihan dan ketekunan dua dari tiga anaknya dalam bermusik sejak mereka masih remaja. Dari melarang, gitaris rock kawakan tersebut belakangan malah mendukung kemauan dua putranya untuk menjadi pemusik-pemusik profesional seperti ayah mereka.

Sejak kira-kira setahun silam, kata Ian kepada KCM di Jakarta, Selasa (26/4), ia sudah mengizinkan dan membantu dua anak lelakinya, Stevan (25) dan Rocky (23), memulai karier mereka di industri musik rekaman dan panggung dalam negeri.

Tahun lalu, Evan, yang drummer dan sudah kelar kuliah, dan Rocky, yang pemain bas dan masih mahasiswa, dengan band mereka yang bernama Gallagasi dilibatkan oleh Ian dalam album A Tribute to Ian Antono.

Selanjutnya, Ian mengikutkan pula Evan dan Rocky serta teman-temannya itu dalam Kedamaian, album yang menyuarakan pesan perdamaian bagi Indonesia dan akan dirilis pada awal Mei tahun ini. Untuk album yang menghadirkan dari vokalis rock kenamaan Achmad Albar hingga penyanyi remaja Cantika tersebut, Ian berkarya sebagai aranjer untuk tiga lagu sekaligus selaku pencipta komposisi untuk dua dari tiga lagu itu.

Pria yang lahir di Malang (Jatim), 29 Oktober 1950 dan diberi nama Yusuf Antono Djojo tersebut memiliki alasan sendiri ketika akhirnya ia memenuhi keinginan Evan dan Rocky.

"Mereka sudah menunjukkan keseriusan mereka di musik, sudah tahu rambu-rambu di industri musik dan sudah siap masuk ke sana," ujar personel grup rock God Bless itu. "Rambu-rambunya, misalnya, jangan ngeboat (memakai narkoba)," imbuh ayah tiga anak tersebut--satu lagi bernama Monica (21).

Namun, tetap saja Ian tak membiarkan anak-anaknya tersebut nyemplung ke industri musik tanpa arahan darinya. "Secara teknis, misalnya, saya kasih masukan, kalau bikin lagu dan aransemen begini," terang Ian, yang juga mencipta lagu dan mengaransemen.

Tapi, masih terang Ian, itu dilakukannya kalau mereka meminta saja. "Supaya mereka bebas dalam berkarya," tekannya.

Rock pun mereka pilih, aku Ian, bukan atas kemauannya lantaran ia rocker. "Mereka kan sering ikut melihat saya main musik rock di mana-mana. Jadi, mau enggak mau, mereka terpengaruh," jelasnya.

Masih dalam rangka mendukung anak-anaknya, Ian juga membuka jaringan-jaringannya di industri musik untuk mereka. "Mereka sudah bikin demo album. Saya membantu menawarkannya ke salah satu perusahaan rekaman," terangnya lagi.

Selain itu, istri Ian, mantan drummer grup Princesstone (1970-an) Titiek Saelan (53), tak hanya menjadi manajer Ian. Titik untuk sementara juga mengelola Galagassi, sembari melatih salah satu teman anak-anaknya untuk kelak menggantikan posisinya. (Ati)

.: dikliping dari website Kompas, 27 April 2005 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar