God Bless: Semangat dan Museum

JAKARTA, KCM - God Bless, yang pada 5 Mei 2008 akan mencapai usia 35 tahun, baru saja menerima penghargaan sebagai legenda musik Indonesia dari salah satu partai politik Tanah Air. Partai itu juga mengumumkan kepada publik bahwa mereka akan mendirikan museum musik Indonesia. Apakah grup rock tersebut memandangnya hanya sebagai kegiatan partai itu untuk merebut simpati publik atau melihatnya betul-betul sebagai penghormatan?

Sabtu malam lalu (25/8), di Senayan, Jakarta, di atas pentas perayaan ulang tahun partai dengan tokoh utama Amien Rais itu, God Bless menerima penghargaan tersebut. "Seingat saya, sepanjang perjalanan musik kami yang hampir 35 tahun, itu merupakan penghargaan pertama bagi kami sebagai legenda. Penghargaan-penghargaan sebelum ini, bukan sebagai legenda," tutur Ian Antono, gitaris God Bless, kepada KCM, Senin (27/8).

Ian, juga mewakili rekan-rekan segrupnya, menuturkan pula bahwa ia dan kawan-kawannya tak mengetahui apakah pemberian penghargaan tersebut dilakukan dengan alasan nonmusikal atau tidak. "Mungkin mereka memberi penghargaan karena lirik lagu-lagu kami sesuai dengan suara hati mereka," ucapnya. Memang tak sedikit lagu God Bless yang berlirik tentang kondisi sosial-politik di Indonesia dan dunia. Sebut saja, Kehidupan, Badut-badut Jakarta, Cendawan Kuning, dan Damai yang Hilang.

Lanjut Ian, God Bless menerima penghargaan itu sebagai penyemangat untuk terus berkarya. "Penghargaan itu membangun semangat kami untuk bermusik lagi, membuat lagu-lagu yang berguna untuk segala lapisan," ucapnya lagi.

God Bless juga menyambut baik rencana partai itu untuk membangun museum musik Indonesia. "Sekarang, pemusik-pemusik lama enggak lagi memiliki sesuatu untuk dilihat. Dengan ada museum musik itu, akan ada sesuatu yang bisa dilihat dari pemusik-pemusik lama," ujarnya. "Misalnya, sejarah God Bless, album-album kami, alat-alat musik yang pernah kami pakai," sambungnya. "Saya masih menyimpan kostum yang saya pakai ketika pertama kali God Bless manggung, di TIM (Taman Ismail Marzuki), pada 1973. Gitar-gitar lama saya, merk Fender dan Gibson, juga masih ada," imbuh Ian, yang bersama Achmad Albar (vokal) dan Donny Fattah (bas) hingga kini masih merupakan personel-personel tetap God Bless.

God Bless akan pula mengingatkan dan mengingatkan lagi partai itu agar betul-betul mewujudkan rencana membuat museum musik Indonesia. "O ya, tentu saja kami akan mengingatkan mereka terus. Mereka (partai itu) kan sudah mengumumkan rencana itu di depan kami, Mensesneg (Hatta Radjasa) dan Bambang Sudibyo (Mendiknas), waktu acara selamatan ulang tahun mereka, dua hari sebelum kami manggung," tegas Ian. (Ati)

.: dikliping dari website Kompas, 27 Agustus 2007 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar