Simfoni Cahaya untuk Indonesia

Laki-laki yang selalu tampil dengan sederhana ini tidak hanya dikenal sebagai raja tata lampu di Indonesia, tetapi juga dijuluki Asia Pasific Tiger untuk urusan lighting panggung di mancanegara. Padahal, sekolahnya hanya sampai kelas empat sekolah rakyat atau sekarang sekolah dasar.

Ketika Deep Purple beraksi di Stadion Gelora Bung Karno, 4 dan 5 Desember 1975, laki-laki yang bernama Hendra Lee itu adalah manajer God Bless, grup yang menjadi pembuka pertunjukan grup rock asal Inggris itu.

Sebagai manajer, dia bangga tetapi sekaligus kecewa karena sound-system serta lighting ratusan ribu watt yang disuguhkan Deep Purple dan mencengangkan sekitar 100.000 penonton yang hadir membuat tata lampu God Bless bagaikan lilin-lilin kecil yang bergelantungan di langit-langit panggung.

Akan tetapi, sekarang, tata lampu dan suara seluruh panggung pertunjukan musik Indonesia sudah bahkan lebih baik daripada penampilan Deep Purple waktu itu. Rata-rata panggung musik itu menggunakan jasa perusahaan yang didirikan Hendra, Mata Elang Production, yang bergerak di bidang rancang-bangun panggung, tata lampu, tata-suara, kembang api, laser, wall-screen, dan pre-production concept.

Panggung musik Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Urbanfest 2007 dan 2008 yang diselenggarakan Kompas, hingga festival musik terbesar di Indonesia A Mild Live Soundrenaline yang diselenggarakan sejak 2002 dan baru saja usai penyelenggaraannya yang ke tujuh di lima kota Sumatera dan Jawa, 10 Agustus lalu, menggandeng Mata Elang Productions.

Langkah Hendra melebar di luar musik. Ia ikut menangani panggung dan tata lampu berbagai peristiwa berskala nasional dan internasional di dalam dan mancanegara.

Mulai dari jumpa pers Presiden Bill Clinton tahun 1994 ketika menghadiri Konferensi Apec di Jakarta, Sea Games XIX 1997 di Jakarta, Olimpiade Sydney 2000 di Australia, hingga peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008.

Acara di Stadion Gelora Bung Karno itu diwarnai ratusan ribu watt cahaya mengiringi berbagai atraksi tarian, paduan suara, reog, bentangan merah putih serta gerak dan gaya Polri dan TNI di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta para pejabat negara dan 100.000 penonton. Setelah 33 tahun pengalaman pahit bersama Deep Purple, Hendra berhasil menyajikan simfoni cahaya Mata Elang-nya untuk Indonesia di tempat yang sama.

Berhenti sekolah

Lahir 13 Juni 1953, ayah dari Malendra, Ferdy, Niki, Erick, dan Putri ini berhenti sekolah karena masalah ekonomi, sosial, dan politik. Namun, dia tidak putus asa. Fisik dan mentalnya terdidik dengan baik ketika belajar karate hingga memperoleh sabuk hitam, yang membawanya beberapa saat menjadi instruktur olahraga bela diri yang ditekuni sejak usia dini itu.

Hampir bersamaan waktunya, Hendra bergabung dalam sebuah band bocah. Kegandrungannya pada musik rock’n’roll, sebagaimana anak-anak muda pada masanya, kemudian membawanya bergabung dengan grup Jaguar yang mengumandangkan lagu-lagu Black Sabbath, Three Dog Night, Grand Funk Railroad, dan yang lainnya di kelab-kelab malam.

”Saya menjadi drummer waktu itu. Pada dasarnya saya memang suka musik, itulah sebabnya dengan senang hati saya menjadi manajer God Bless beberapa tahun meskipun lebih sering merugi. Yang menyenangkan saya, lighting dan sound-system rakitan saya membuat pertunjukan God Bless paling keren waktu itu,” ujar Hendra, yang menjadi manajer God Bless tahun 1974-1976. Waktu itu dia merakit sendiri lighting maupun sound-system God Bless.

Dengan Mata Elang Production-nya, sekarang Hendra menghadirkan pergelaran yang lebih keren lagi. Sebagaimana yang diperlihatkannya dalam berbagai acara HUT Ke-63 RI tahun ini, termasuk Pesta Kembang Api di Pondok Hijau Lapangan Golf Summarecon Serpong, Sabtu (23/8) malam. Peragaan kembang api Explomo dari Singapura dilengkapi rangkaian simfoni cahaya tata-lampu Mata Elang.

Lilin-lilin kecil hasil rakitan Hendra semasa God Bless sekarang menjadi tata lampu Mata Elang tidak hanya memberi warna-warni sinar panggung musik Indonesia, tetapi juga menggemerlapkan 8 dari 10 stasiun televisi Tanah Air, dengan achitectural e-camera, digital imaging,digital video graphic, streamings, special effect, plasma & flat display screen, LCD panel, LCP display, video wall, virtual & electronic billboard, serta teknologi pertelevisian lainnya.

Kiprahnya di berbagai panggung musik serta stasiun televisi ini mengundang Ernst & Young Advisory Services menominasikannya sebagai Indonesian Entrepreneur of The Year 2008. Jika terpilih, Hendra akan mewakili Indonesia di antara 50 negara peserta dalam ajang World Entrepreneur of The Year Award di Monte Carlo, Juni 2009.

Berapa harga jasa Mata Elang untuk panggung, lighting dan sound-system seperti peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Stadion Gelora Bung Karno atau perayaan HUT Ke-63 Kemerdekaan RI?

”Untuk acara kenegaraan seperti itu, saya memberi harga khusus, tidak komersial sebagaimana biasa,” kata Hendra, yang sedang merintis berdirinya sebuah gedung pertunjukan musik untuk Indonesia. (Theodore KS, Penulis Masalah Industri Musik)

.: dikliping dari websites Kompas, 26 Desember 2008 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar