Dari Perjalanan J-Rocks Rekaman dan Buat Klip Video di Inggris Sering Terganggu Cuaca

Membikin klip video ber-setting luar negeri kini lagi tren. Selain kesannya lebih wah, pemandangan di sana, khususnya Eropa penuh warna. Bangunan berarsitektur klasik banyak, panorama pun ciamik karena lebih kaya musim. Nggak percaya?

Tengok saja klip video milik Yovie & Nuno yang sering berkelebat di layar kaca. Kota London, Inggris, yang indah dipadukan dengan dara cantik, sungguh romantis dan mampu menimbulkan kesan wah.

Namun, wah tak selalu identik dengan mahal. Memang, kalau harus memboyong model dan kru gendut dari Indonesia, pembuatan klip video bisa mengakibatkan jatuh miskin. Hitung saja berapa ongkos pesawat, hotel, dan semua tetek bengek lainnya.

Namun, semua bisa disiasati. Itulah yang dilakukan oleh kelompok musik J-Rocks saat berangkat rekaman di Abbey Road Studio. London dan pertengahan Oktober lalu. Mereka menggandeng sutradara klip video Eka Nugraha.

Beban Eka tidak ringan. Bukan hanya tidak boleh mengajak kru dengan alasan pengiritan, tapi dia juga harus hunting lokasi-lokasi ciamik di Kota London sendirian sekaligus menemukan model yang pas dengan kebutuhan lagu.

”Saya senang akan tantangan. Jadi, saya terima tawaran J-Rocks,” tutur sutradara klip video yang kini sedang naik daun itu. ”Bekerja sendirian bagi saya juga bukan masalah. Saat awal-awal karir dulu, saya juga kerja sendirian,” sambungnya.

Setiba di London Sabtu (11/10), Eka langsung memulai perburuan. Mencari lokasi sekaligus memburu model. Soal lokasi, tidak ada masalah bagi dia. Sebab, dia sudah beberapa kali mendarat di London, termasuk membuat klip video milik grup musik Padi.

Yang bikin dia puyeng adalah mencari model untuk single anyar J-Rocks, Falling in Love. Sebab, syaratnya lumayan berat. Bukan hanya harus fotogenik dan camera face, tapi juga bisa berbahasa Indonesia. Kalau hanya cantik dan semampai, London gudangnya. Tapi, bisa berbahasa Indonesia, sesulit mencari jarum di tumpukan jerami tentunya.

Target perburuan pertama adalah Adelia, seorang mahasiswi asal Jakarta. Dari semua persyaratan, Ade—panggilan akrabnya—agaknya akan langsung lolos. Dia cantik, semampai, dan tentunya fasih dengan bahasa ibunya, Indonesia. Hanya, dia rupanya kurang berminat jadi model klip video.

”Saya sudah kontak-kontakan dari Jakarta. Janji ketemu Sabtu (11/10), tapi mundur Minggu. Akhirnya, Minggu juga gagal,” ujar Eka.

Karena waktu terbatas, Eka langsung membidik target berikutnya. Namanya Dhea. ”Saya direkomendasikan oleh seorang teman di Jakarta,” tuturnya. Dhea adalah mantan Gadis Sampul 2004 yang kini sedang studi di London. Ayahnya orang Inggris, sedangkan ibunya berdarah Indonesia.

”Dia sangat fotogenik dan camera face,” ungkapnya. Eka langsung ”jatuh cinta” pada pandangan pertama. Dhea pun langsung diikat kontrak. Ditanya soal nilai kontrak sang model. Eka tak mau menjawab secara tegas. ”Ya, standar lah. Biasanya model baru antara Rp 2-3 juta, sedangkan model lama Rp 5 juta,” jelasnya.

Masalah lokasi dan model beres, bukan berarti problem Eka berakhir. Dia masih dipusingkan cuaca Kota London yang sering kurang bersahabat. Menjelang musim dingin, langit London sering diliputi mendung. (*/ib)

TENTANG J-ROCKS
  • Lahir : Jakarta, Indonesia
  • Genre : Japanese Rock
  • Aktif : November 2003 – sekarang
  • Perusahaan rekaman : Aquarius Musikindo
  • Pengaruh musik : L’Arc~en~Ciel, MUSE
  • Situs resmi : http://www.j-rockstar.com

ANGGOTA

  • Swara Wima Yoga (bass)
  • Iman Taufik Rachman (vokal, gitar)
  • Sony Ismail Robbayani (gitar)
  • Anton Rudy Kelces (drum)

DISKOGRAFI

  • Topeng
  • Sahabat
  • Spirit
  • Falling in Love (single)

.: dikliping dari koran Jawa Pos, 26 Oktober 2008 :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar